Oleh: marshaulina | Juni 14, 2008

Judul Mencapai Puncak Tertinggi Mengenal Bahan Bakar Ambisi

Oleh                : marsha

 

Isi Naskah :

Ambisi, menurut kamus Webster, adalah “sebuah dorongan yang kuat untuk mencapai ranking, ketenaran, kehormatan dan kekuasaan; keinginan untuk mencapai tujuan tertentu keinginan yang kuat untuk meraih suatu kemajuan, kedudukan yang lebih tinggi, atau keinginan lain yang lebih luas.” Ambisi adalah suatu driving force yang membuat manusia mampu meraih apapun.

 

Ambisi tidaklah positif ataupun negatif pada dirinya Sendiri. Zig Ziglar mengatakan bahwa bila belas kasihan (compassion), kebijaksanaan dan integritas menjadi bahan bakarnya, maka ambisi akan menjadi suatu kekuatan yang luar biasa untuk kebaikan. Sebaliknya, bila ‘dikendarai’ oleh ketamakan dan nafsu untuk meraih kekuasaan, ambisi akan menjadi tenaga destruktif yang menghasilkan kerusakan yang parah-pada pribadi yang berada di bawah cengkeramannya, maupun pada orang-orang di sekelilingnya. Ambisi bisa membangun atau menghancurkan kita.

 

Seorang anak yang suka menyanyi di paduan suara gereja berdta-cita untuk menjadi seorang rohaniwan. Lalu ia berubah pikiran dan memutuskan untuk menjadi seorang seniman. Namun setelah gagal dalam ujian masuk sekolah seni, ia mulai membenci agama dan hidup tanpa semangat maupun pekerjaan tetap. Tiba-tiba suatu semangat baru datang di benaknya, yang membuat ia berkembang menjadi pemimpin sebuah partai politikyang memiliki organizational Skil yang luar biasa. la mencoba untuk menggulingkan pemerintahnya, namun gagal dan harus meringkuk di penjara selama sembilan bulan.

 

Namun ambisinya tetap menyala-nyala. Di penjara, ia malah menulis buku mengenai ide-idenya yang brilian, Setelah keluar dari penjara ia kembali memimpin partainya dan dalam beberapa tahun menjadi sangat berpengaruh, sampai ia dapat memaksa presiden untuk melantiknya menjadi perdana menteri. Dalam enam bulan ia mengambil alih pemerintahan dan menjadi seorang diktator. la menyebar kematian di mana-mana, dan ia ngin menguasai dunia. Nama aslinya adalah Schicklgruber, namun mungkin lebih dikenal sebagai Adolf Hitler.

 

Peribahasa Cina menyatakan, “Seorang yang mengorbankan hati nurani demi ambisinya sama saja dengan membakar sebuah lukisan indah hanya untuk memperoleh abu” Memiliki ambisi saja tidaklah cukup. Kita harus menggali ke dalam diri kita untuk mengetahui apayang menjadi bahan bakarnya.

 

Insecurity (rasa tidak aman) dapat menjadi bahan bakar bagi suatu ambisi. Bila self-worth (kelayakan, penghargaan terhadap diri) seseorang didasarkan pada penerimaan, pengakuan, dan recognition dari publik di sekitarnya, maka ia akan membangun rasa amannya berdasarkan pencapaian dan sukses yang ia raih. Bila ia tidak menerima pengakuan maupun pujian yang ia pikir layak ia terima, kemarahan dan kekecewaan akan memenuhi dirinya-dan ironisnya ia malah menggunakan hal-hal itu sebagai bahan bakar bagi ambisinya untuk meraih achievement lebih tinggi lagi.

 

Seringkali sangat mudah bagi siapapun untuk melakukan hal yang baik dengan alasan yang salah, dan mengganggap bahwa ia sedang mengejar suatu tujuan yang mulia, yang ternyata adalah sebuah pengejaran akan kepentingan diri sendiri. Tidak jarang “ambisi” seseorang sebenarnya dijiwai oleh kecemburuan negatif (tidak ingin orang lain melebihi dirinya) untuk berkompetisi terus menerus, yang akhirnya menimbulkan benturan-benturan dengan orang-orang lain.

 

Jim Rohn mengatakan, “Ambisi sering disalah-artikan sebagai hal yang jahat. Ambisi sejati sebenarnya tidak memiliki kualitas selfish, dan oleh karenanya tidak perlu ditekan ataupun dipadamkan. Dalam pengertian terbaiknya, ambisi justru melayani diri kita dan orang-orang lain, sehingga adalah suatu hal yang paling tidak egois yang dapat kita kejar.” Bagaimanakah ambisi, yang sebenarnya merupakan suatu kerinduan yang membara untuk menjadi besar, menjadi hal yang tidak egois dan positif?

 

Hal ini dimulai dengan pengertian yang benar mengenai konsep greatness (kebesaran), yang adalahesensi yang ingin dicapai oleh ambisi. John Maxwell, seorang leadership speaker ternama, menjelaskan bahwa kepemimpinan itu sebenarnya adalah:

 

-bukannya more power (kekuasaan), tapi more sacrifice (pengorbanan)

-bukannya more options (pilihan), tapi more limitations(batasan)

-bukannya more freedom, tapi Moreaccountability (pertanggungjawaban)

-bukannya more respect, tapi more risk (resiko)

-bukannya more agreement (persetujuan) Tapi more opposition (pertentangan).

 

Demikian pula halnya dengan greatness (kebesaran). Ternyata kebesaran sejati bukanlah suatu kesempatan untuk meraih kenyamanan dan kebanggaan diri belaka, namun justru adalah suatu kapasitas untuk berkorban, dibatasi, bertanggungjawab, berani mengambil risiko, dan ketabahan untuk ditentang demi kepentingan orang banyak. Dengan kata lain, kebesaran sejati adalah sacrifice dan servanthood. Bila greatness seperti ini yang menjadi bahan bakarnya, maka ambisi kita menjadi suatu daya yang menciptakan kehidupan-baik bagi pribadi yang dikuasainya, maupun pada orang-orang yang bersentuhan dengannya.

 

Mereka yang dikenang sebagai orang-orang besar yang mengabdikan dirinya bagi orang banyak seperti Mother Teresa, Abraham Lincoln, Lady Diana, dan Nelson Mandela dapat bersaksi bahwa ambisi adalah salah satu motivasi terkuat yang mampu membawa seseorang melewati masa-masa sulit, dan tidak menyerah menghadapi kegagalan untuk mencapai purpose yang ia dambakan. Di bidang apapun Anda, milikilah ambisi untuk meraih true greatness. Biarkan ambisi itu menjadi driving force yang memacu Anda untuk berkarya. Namun, pastikan untuk selalu menaruhkan bahan bakar yang tepat kedalamnya.

 

Diadopsi dari Majalah INTRA


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.